Sabtu, 14 Mei 2016

MATERI KULIAH

SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA


logo


Disusun Oleh :
1.     Seh Maolana                      40212006
2.     Feri Indriastuti                   40212007
3.     Maesaroh Khayati             40212116
4.     Subur Widadi                    40212117
5.     Farah Siska Lukanti                   40212126
6.     Devi Aryani                        40212134

Diajukan Guna memenuhi Tugas
Mata Kuliah        : Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Taufiq Khoirurrohman, M.Pd.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM BUMIAYU
2015
KATA PENGANTAR

Bahasa Indosnesia sebagai bahasa persatuan di Republik Idonesia tentu mempunyi fungsi yang sangat dominan segala aspek kehidupan masyarakat. Bagaiamanpun juga bahasa Indonesia harus tetap di pelajari, di kembangkan, dan dioptimalkan fungsinya baik bagi masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia.
Belajar bahasa Indonesia berarti juga belajar budaya Indonesia. Oleh karena itu, harapan besar yang menjadi cita-cita bangsa Indonesia saat ini ialah mengembalikan bangsa Indonesia yang mencintai tanah air, bangsa dan bahasanya sehingga generasi-generasi yang akan datang adalah generasi-generasi Indoensia yang berbudaya Indonesia. Para pembaca, khususya mahasiswa hendaknya mempelajari Bahasa Indonesia dengan sungguh-sungguh sekalian juga berkomunikasi secara santun berdasarkan budaya Indonesia. Melalui mata kuliah Bahasa Indonesia diharapakan tumbuh sikap bangga menggunakan Bahasa Indonesia sehingga tumbuh pula penghargaan akan petingnya nilai-nilai yang terkandung dalam Bahasa Indonesia.
Dengan demikian upaya, pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia termasuk pembelajaran Bahasa Indonesia diperguruan tinggi, akan mengarah pada pemaknaan Bahasa Indonesia sesuai dengan fungsi kebudayaan sehingga dengan analisis kritis penggunaan Bahasa Indonesia saat ini akan memberikan kontribusi positif bagi para pembaca, pendidik, serta pengambil keputusan.

Paguyangan, Oktober 2015



BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia sebagai salah satu Bahasa Didunia ini memiliki peran penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pentingya peranan bahasa itu antara lain bersimber pada ikrar sumpah pemuda tahun 1928 yang berbunyi ”kami poetra dan poetri Indonesia Mendjoendjoeng Bahasa persatoen, Bahasa Indonesia”. Dan pada UUD dasar kita yang didalamnya tercantum pasal khusus yang menyatakan bahwa. “Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia”. Disamping itu, masih ada beberap alasan mengapa bahasa Indonesia menduduki tempat yang terkemuka diantara beratus-ratus bahasa nusantara yang masing-masing amat penting bagi penuturnya sebagai bahasa Ibu.
Dengan adanya era perkembangan zaman bahasa adalah kunci di mana sebgai ciri khas bangsa untuk memperkenalkan dunia , ketika perkembangan zaman mencapai era globalisasi bahasa semakin maju dan semakin berkembang maka dari itu bahasa Indonesia mengalami sebuah perkembangan baik dari segi kata maupun artinya.
  1. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian bahasa?
2. Apakah hakikat dari bahasa Indonesia?
3. Bagaimana sejarah perkembangan bahasa Indonesia?





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Umum Bahasa
            Berikut penjelasan tentang pengertian bahasa menurut para ahli, antara lain:
1.      Bahasa adalah sebuah simbol bunyi yang arbitrer yang digunakan untuk komunikasi manusia (Wardhaugh, 1972).
2.      Bahasa adalah sebuah alat untuk mengomunikasikan gagasan atau perasaan secara sistematis melalui penggunaan tanda, suara, gerak, atau tanda-tanda yang disepakati, yang memiliki makna, makna yang dipahami (Webster’s New Collegiate Dictionary, 1981).
3.      Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota sosial untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan mengidentifikasi diri (Kentjono, Ed., 1984:2).
4.      Bahasa adalah salah satu dari sejumlah sistem makna yang secara bersama-sama membentuk budaya manusia (Halliday dan Hasan, 1991).
B.     Hakikat Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa di dunia memiliki peranan penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pentingnya peranan bahasa itu antara lain bersumber pada ikrar sumpah pemuda tahun 1928 yang berbunyi “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indosia” dan pada Undang-Undang Dasar yang di dalamnya tercantum pasal khusus yang menyatakan bahwa “bahasa negara ialah bahasa Indonesia”.
Bahasa Indonesia memiliki fungsi khusus sesuai dengan kedudukannya sebagai bahasa negara (UUD 1945 Bab XV Pasal 36) yaitu bahasa resmi kenegaraan dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.
Dalam istilah bahasa Indonesia dikenal bahasa yang baik dan benar. Bahasa yang baik merupakan bahasa yang dipergunakan sesuai situasi dan kondisi. Artinya, dengan siapa seseorang berbicara, di mana, kapan, dan lain-lain menjadi dasar pijakan bahasa yang baik. Bahasa yang benar dipergunakan oleh masyarakat Indonesia dengan didasarkan pada patokan ejaan yang disempurnakan (EYD). Hal ini mengandung pengertian bahwa bahasa yang benar adalah bahasa yang bersifat perskriptif, artinya segala sesuai didasarkan pada benar atau salahnya penggunaan bahasa.
C.    Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia
Sejarah Indonesia berasal dari bahasa melayu, bahasa ini telah tumbuh dan berkembang bahkan sebelum bahasa Indonesia di deklarasikan sebagai bahasa persatuan dalam sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Namun kini timbul Pertanyaan, mengapa kemudian dari sekian banyak bahasa yang tersebar di Indnonesia mengapa justru bahasa melayulah yang menjadi asal lahirnya Bahasa Indonesia.
            Ada Tiga faktor yang menyebabkan mengapa Bahasa Melayu pada saat itu diterima oleh masyarakat.
1.      Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca
Bahasa melayu sudah digunakan sebagai bahasa perdagangan sejak jaman sriwijaya. Di sini bahasa melayu menjadi bahasa yang dapat dipahami dan digunakan dalam perdagangan oleh berbagai  suku yang memiliki latar belakang bahasa ibu yang berbeda. Sehingga dengan demikian bahasa melayu menjadi lingua franca dalam aktifitas perdagangan. Dengan menjadi lingua franca, bahasa melayu menjadi cepat tersebar ke berbagai daerah di nusantara.
2.      Sistem Bahasa Melayu Praktis dan Sederhana
Bahasa Melayu berbeda dengan bahasa lainnya di indonesia dalam segi strukturnya. Struktur dalam bahasa melayu tidak mengenal undak usuk atau bahasa yang disampaikan berdasarkan strata sosial yang dipakai oleh masyarakat jawa. Misalnya dalam penggunaan kata sapaan, di jawa kata sapaan seorang anak kepada orang tua akan berbeda dengan seorang anak kepada teman sebayanya. Sehingga kepraktisan dan kesederhanaan inilah yang membuat bahasa Melayu lebih diterima dibanding dengan bahasa lain.
3.      Kebutuhan politik
Untuk mengatasi perbedaan bahasa yang ada di Indonesia. Indonesia tidak mungkin memilih salah satu bahasa dari ratusan bahasa ibu yang dimiliki oleh suku-suku yang tersebar di Nusantara. Karena dengan memilih salah satu bahasa ibu sebuah suku, hal itu akan dapat menimbulkan potensi konflik rasial yang dapat mengakibatkan perpecahan. Maka, memilih bahasa melayu adalah pilihan yang tepat karena bahasa tersebut telah dipahami di berbagai daerah di Nusantara sebagai bahasa perdagangan.

Demikianlah, tiga alasan mengapa bahasa melayu kemudian terpilih menjadi bahasa persatuan. Dari hal yang bersifat komunikasi sampai pada hal yang politis. Namun dalam perkembangan saat ini, bahasa indonesia yang kita kenal dan kita gunakan sekarang ini sudah tidak sama lagi dengan bahasa asalnya, yaitu bahasa melayu. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut. Diantara faktor tersebut adalah faktor waktu, politik, sosial budaya, dan IPTEK,
1.      Waktu
Perkembangan bahasa Indonesia dalam lintasan sejarah dapat dibagi menjadi tiga fase, fase pertama atau disebut dengan masa prokolonial. Pada masa ini terdapat beberapa bukti tertulis mengenai bahasa melayu tua yang ditemukan pada beberapa prasasti dan inskripsi. Bukti lain, dapat diidentifikasi melalui adanya dialek melayu yang tersebar di Wilayah Nusantara.
      Fase kedua atau disebut dengan masa kolonial, pada masa ini yakni sekitar abad XVI orang-orang barat sudah sampai di Indonesia, mereka menemukan bahwa bahasa melayu telah digunakan sebagai bahasa resmi dalam pergaulan, perhubungan dan perdagangan. Hal ini dikuatkan oleh Pigafetta yang berkebangsaan Portugis yang mengunjungi Tidore untuk menyusun daftar kata melayu – Itali tahun 1522.
      Fase ketiga atau disebut dengan Masa Pergerakan. Masa ini dimulai dari tahun 1901.pada tahun ini telah disusun ejaan resmi bahasa Melayu Van Ophuysen yang merupakan cikal bakal ejaan bahasa Indonesia yang saat itu masih terdapat penggabungan dua konsonan untuk membentuk huruf-huruf tertenu seperti huruf c yang ditulis tj, atau j yang ditulis dj.
      Selanjutnya di tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah bahan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
      Barulah pada tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu ditetapkan sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia kemudian semakin dikenal luas pada tahun 1933 lewat karya-karya angkatan sastrawan muda yang menanamkan dirinya sebagai pujangga baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.
      Pada tahun 1945 bahasa Indonesia kemudian dikukuhkan sebagai bahasa negara lewat Pasal 36 UUD 1945. Bahasa Indonesia semakin berkembang pada tahun 1947 yang ditandai dengan penetapan Ejaan Republik atau Ejaan Suwandi menggantikan ejaan Van Ophuysen. Ejaan ini kemudian mengalami perbaikan di tahun 1972. Perbaikan ini kemudian dinamakan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) yang diresmikan oleh Presiden Suharto lewat Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972. Di tahun yang sama, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah itu, pada 28 Oktober 1980 ditetapkan sebagai Bulan Bahasa.
      Untuk melakukan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia,para ahli maupun akademisi secara berkesinambungan bertemu setiap 5 tahun sekali dalam acara Kongres Bahasa. Berkikut pertemuan-pertemuan dalam Kongres Bahasa Indonesia tersebut beserta hasil maupun kesepakatannya:
a.       Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilaksanakan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.
b.      Tanggal 28 Oktober-2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
c.       Tanggal 28 Oktober-2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
d.      Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
e.       Tanggal 28 Oktober-3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadari oleh kira-kira 700 pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunai Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres ini ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pecinta bahasa di nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
f.       Tanggal 28 Oktober-2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesa VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunai Darusalam, Jerman, Hong Kong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-undang Bahasa Indonesia.
g.      Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesa VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.
2.      Politik
      Muatan politik sangat melekat bahkan sejak kelahiran bahasa Indonesia. Unsur politik yang paling nyata adalah dalam Sumpah Pemuda yang dilaksanakan pada 28 Oktober 1928. Saat itu, proses intimidasi terhadap penjajah dilakukan oleh sekelompok pemuda yang mengikrarkan tiga ikrar yang kini sangat bersejarah, tiga poin yang salah satunya berisi tentang pengakuan penggunaan bahasa Indonesia.
      Eksistensi Bahasa Indonesia semakin kuat ketika dikeluarkan pasal 36UUD 1945 yang berisi Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Pengakuan bahasa persatuan ini, merupakan salah satu tuntutan yang harus dipenuhi pemerintah Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaannya dari Jepang. Saat itu, Jepang meminta kesiapan bangsa Indonesia untuk merdeka. Salah satu syaratnya adalah bahasa persatuan ini.
3.      Sosial Budaya
      Bahasa Indonesia yang saat ini digunakan merupakan hasil dari interaksi masyarakat antar satu suku dengan suku lainnya. Program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah membuat interaksi antar suku ini semakin kuat selain arus urbanisasi yang tak dapat dibendung. Sehingga hasil dari pertemuan sosial budaya inilah melahirkan istilah-istilah kebahasaan yang dipahami dan berkembang oleh pemakainya yang kemudian diakui sebagai bahasa Indonesia. Ada kata-kata dari bahasa daerah Sunda, Jawa, Bugis, Batak, dan lain sebagainya yang kemudian menjadi kata bahasa Indonesia.
      Selain faktor interaksi antar suku ini, perkembangan kebudayaan juga menghasilkan bahasa. Istilah mencanting dalam pembuatan batik kemudian dikenal luas.
4.      IPTEK
      Perkembangan bahasa Indonesia sangat dipengaruhi oleh teknologi. Namun demikian banyak teknologi terbarukan justru lahir dari tangan asing yang kemudian masuk ke Indonesia dengan bahasa internasional yakni Inggris. Hal ini tentu saja menjadi tantangan bagi para ahli bahasa untuk mencari padanan yang tepat untuk menyebut istilah-istilah asing itu. Sebagian istilah tersebut langsung diindonesiakan dengan menyerap secara utuh, sebagian lagi dicarikan padanannya yang sesuai dengan konsep ilmiah tersebut. Maka website kemudian dipadankan menjadi laman, begitu juga pada kata upload  yang dipadankan dengan unggah, dan download yang dipadankan dengan ungguh / unduh. Adapun penyerapan secara utuh misalnya menyebut laman facebook yang kemudian diindonesiakan menjadi fesbuk.




















BAB III
PENUTUP

Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa di dunia memiliki peranan penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pentingnya peranan bahasa itu antara lain bersumber pada ikrar sumpah pemuda tahun 1928 yang berbunyi “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indosia” dan pada Undang-Undang Dasar yang di dalamnya tercantum pasal khusus yang menyatakan bahwa “bahasa negara ialah bahasa Indonesia”.
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Tiga faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diterima oleh masyarakat, antara lain: (1) bahasa Melayu sebagai Lingua Franca, (2) sistem bahasa Melayu praktis dan sederhana, (3) kebutuhan politik. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahas Melayu antara lain: faktor waktu, politik, sosial budaya, dan IPTEK.











DAFTAR PUSTAKA

  1. Hikmat, Ade dan Nasli Solihati. 2013. Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.
  2. W, Solchan T. 2008. Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. Jakatra: Universitas Terbuka.
  3. Pamungkas, Sri. 2012. Bahasa Indonesia dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: CV Andi Offset.
  4. Rosdiana, Yusi. dkk. 2009. Bahasa dan Sastra Indonesia di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.