Minggu, 19 Januari 2014

PEMBELAJARAN AKTIF KREATIF EFEKTIF DAN MENYENANGKAN (PAKEM)


BAB I
PEMBUKAAN

Guru dan anak didik adalah padanan frase yang serasi, seimbang, dan harmonis. Keduanya berada dalam hubungan kejiwaan yang saling membutuhkan. Guru mengajar dan anak didik belajar.
            Pembelajaran adalah proses yang pada membelajarkan siswa yang dilakukan oleh guru. Di dalamnya terdapat usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi terus menerus proses belajar dalam diri siswa. Itulah pembelajaran aktif yang sekaligus menumbuhkan daya kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Saat ini terjadi perubahan paradigma dalam proses pembelajaran. Selama ini yang terjadi dalam proses pembelajaran lebih banyak didominasi oleh guru, namun saat ini mulai diubah paradigma berpikirnya bahwa yang belajar adalah siswa, sehingga perlu ada aktivitas yang seimbang antara siswa dan guru. Bahkan akan lebih baik lagi jika siswa lebih banyak aktif dalam pembelajaran.
            Di sinilah letak pentingnya strategi PAKEM, yaitu pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan sebagai acuan pembelajaran. Strategi ini berorientasi untuk menggali potensi terbesar siswa dengan metodologi pembelajaran yang mengedepankan keaktifan anak, mendorong kreativitas, efektif dalam pencapaian target dan kualitas, serta menyenangkan dalam prosesnya, sehingga anak bisa memahami materi pembelajaran dengan nyaman, senang, dan ceria.





BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PAKEM
Istilah PAKEM semula dikembangkan dari istilah AJEL (Active Joyful and Effective Learning). Untuk pertama kalinya di Indonesia, yaitu pada tahun 1999, metode ini dikenal dengan istilah PEAM (Pembelajaran Efektif, Aktif, dan Menyenangkan).
PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. PAKEM adalah sebuah pendekatan yang memungkinkan peserta didik mengerjakan kegiatan beragam untuk mengembangkan keterampilan, sikap, dan pemahamannya dengan penekanan belajar sambil bekerja (learning by doing). Sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar, termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif. PAKEM merupakan model pembelajaran yang diterapkan dalam kurikulum yang disempurnakan di bawah bimbingan MBE (managing based of education) dari UNESCO yang dalam aplikasinya pembelajaran yang mengembangkan kemampuan kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah.dan juga menjadi pedoman dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
1. Pembelajaran Aktif
Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran, guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pelajar dalam membangun pengetahuannya. Bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah gur tentang pengetahuan. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi kreatif yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Dari proses pembelajaran aktif akan menyebabkan peserta didik mampu berpikir inovatif dan kreatif. Terdapat sembilan prinsip belajar menurut Sulo Lipu La Sulo (1990: 9-10) yang perlu diperhatikan dalam upaya mengoptimalkan keaktifan siswa dalam belajar, baik dipandang dari pihak pelajar maupun dari pihak pengelola proses pembelajaran. Prinsip itu antara lain:
a) pertumbuhan motivasi, baik motivasi intrinsik maupun ekstrinsik.
b) pemantapan latar dari materi yang akan dipelajari, khususnya pemberian apersepsi atau kaitan.
c) mengutamakan keterarahan pada suatu fokus, seperti suatu konsep inti ataupun permasalahan sehingga siswa dapat memusatkan perhatian serta mengaitkan atau menghubungkan keseluruhan bahan yang sedang dipelajari.
d) belajar sambil bekerja, sambil bermain, ataupun kegiatan lainnya.
e) penyesuaian dengan perbedaan individual.
f) peluang untuk bekerja sama dengan berbagai pola interaksi.
g) peluang untuk menemukan sendiri informasi atau konsep.
h) penumbuhan kepekaan mencari masalah dan memecahkannya.
i) mengupayakan keterpaduan, baik asimilasi maupun akomodasi kognitif.
            Untuk mewujudkan prinsip belajar di atas, menurut Sulo Lipu La Sulo (1990:10), terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran seperti berikut:
a) mengupayakan variasi kegiatan dan suasana belajar dengan penggunaan berbagai strategi pembelajaran.
b) menumbuhkan prakarsa siswa untuk aktif dan kreatif dalam kegiatan pembelajaran.
c) mengembangkan berbagai pola interaksi dalam pembelajaran, baik antara guru dan siswa maupun antarsiswa.
d) menggunakan berbagai sumber belajar, baik yang dirancang/by design (buku pelajaran, media pembelajaran, model kerangka manusia, dll) maupun yang dimanfaatkan/by utilization (tumbuhan, hewan, lingkungan, pasar, dll).
e) pemantauan yang intensif dan diikuti dengan pemberian balikan yang spesifik juga segera atau cepat.
Sebagai pusat belajar, peserta didik harus lebih aktif berkegiatan untuk membangun suatu pemahaman, ketrampilan, dan sikap/perilaku tertentu. Aktifitas siswa menjadi penting karena belajar pada hakikatnya adalah proses yang aktif dimana siswa menggunakan pikirannya untuk membangun pemahaman (constructivism aproach). Dari proses pembelajaran aktif akan menyebabkan peserta didik mampu berpikir inovatif dan kreatif.
2. Pembelajaran Kreatif
Kreatif berarti memiliki daya cipta atau kemampuan untuk mencipta. Menurut Reni Akbar (2001) kreativitas merupakan kemampuan seseorang melahirkan sesuatu yang baru atau kombinasi hal yang sudah ada sehingga terkesan baru.
Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung dan harus mampu membuat siswa lebih aktif, berani menyampaikan pendapat dan berargumen dengan guru tersebut menggunakan beberapa metode dan strategi bervariasi, misalnya kerja kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah.
Sedangkan menurut M. Mukhtar pembelajaran kreatif merupakan pembelajaran yang dilakukan di dalam maupun di luar kelas dengan memanfaatkan semua potensi yang ada. Untuk itu guru dituntut mampu merangsang kreativitas peserta didik dalam hal kecakapan berpikir maupun dalam melakukan suatu tindakan. Kreatif yang dimaksud adalah kemampuan peserta didik dalam menghasilkan sebuah kegiatan atau aktifitas yang baru yang diperoleh dari hasil berpikir kreatif dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil karya yang baru.
Dari konsep di atas, dapat diketahui adanya tujuan tertentu dalam pembelajaran kreatif, yaitu:
a) menciptakan suasana yang harmonis dan hangat antara siswa dengan guru.
b) mendorong siswa untuk berani bertanya, menyampaikan pendapat, dan juga mampu mempertahankan argumentasinya.
c) mendorong siswa untuk mampu memberdayakan segala sumber daya yang tersedia, baik di dalam maupun di luar kelas.
            Pembelajaran kreatif menekankan pada pengembangan kreativitas, baik pengembangan kemampuan imajinasi dan daya cipta (mengarang, membuat kerajinan tangan, mempraktekkan kesenian, dll) maupun pengembangan kemampuan berpikir kreatif. Pengembangan kemampuan berpikir kreatif haruslah seimbang dengan kemampuan berpikir rasional logis. Pembelajaran di SD-MI pada umumnya telah banyak mengupayakan pengembangan kemampuan berpikir rasional logis, contohnya melalui pembelajaran matematika (latihan mengerjakan soal matematika dengan jawaban tunggal).
3. Pembelajaran Efektif
Efektif berarti proses pembelajaran tersebut bermakna bagi siswa. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang haru dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Sebab belajar memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru, dan membentuk kompetensi peserta didik, serta mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan cara melibatkan seluruh peserta didik dalam merencanakan proses pembelajaran.
Pendapat yang sama dikemukakan oleh Khaerudin dan Mahfud Junaedi yang menyatakan bahwa pembelajararan dikatakan efektif jika peserta didik mengalami berbagai pengalaman baru dan perilakunya menjadi berubah menuju titik akumulasi kompetensi yang diharapkan.
Pembelajaran efektif menuntut keterlibatan peserta didik secara aktif, karena mereka merupakan pusat kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Pembelajaran ini juga perlu ditunjang oleh suasana dan lingkungan yang memadai. Untuk itu, guru harus mampu mengelola tempat belajar dengan baik, mengelola peserta didik, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola isi/materi pembelajaran, dan mengelola sumber-sumber belajar.
4. Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not under pressure). Dalam pembelajaran ini guru memposisikan diri sebagai mitra belajar peserta didik agar tercipta suasana keakraban antara pendidik dan peserta didik dalam proses belajar mengajar.
Peter Kline dalam Gordon Dryden & Jeannette Vos mengatakan bahwa belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan. Menyenangkan atau membuat suasana belajar dalam keadaan gembira bukan berarti menciptakan suasana ribut dan hura-hura. Ini tidak ada hubungannya dengan kesenangan yang sembrono dan kemeriahan yang dangkal. Menyenangkan disini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan materi yang dipelajari), dan nilai yang membanggakan pada diri siswa.
Pembelajaran yang menyenangkan ini dapat terwujud apabila guru mampu mendesain materi pembelajaran dengan baik serta mengkombinasikannya dengan strategi pembelajaran yang mengedepankan keterlibatan aktif peserta didik di kelas, seperti simulasi, game, team quiz, role playing dan sebagainya. Menyenangkan juga berarti membuat suasana belajar mengajar yang asik sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar dan waktu curah siswa pada pelajaran menjadi (time on task) tinggi.
B. CIRI-CIRI PAKEM
            Ciri-ciri pembelajaran PAKEM secara garis besar ialah:
a) multi metode dan multi media
b) praktik dan bekerja dalam satu tim
c) memanfaatkan lingkungan sekitar
d) dilakukan di dalam dan di luar kelas
e) multi aspek (logika, praktik dan etika)
            Ciri-ciri PAKEM yang digambarkan dalam buku pelatihan awal program MBS yang merupakan pelatihan program kerja sama pemerintah Indonesia dengan UNESCO dan UNICEF (2003:3-4), antara lain:
a) siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat (learning to do)
b) guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menjadi menarik, menyenangkan dan cocok bagi siswa.
c) guru mengatur kelas dengan cara memajang buku-buku dan bahan ajar yang lebih menarik dan menyediakan “pokok baca”.
d) guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk belajar kelompok.
e) guru mendorong siswa untuk menemukan cara sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
            Sedangkan Rose and Nocholl mengatakan bahwa ciri-ciri PAKEM adalah sebagai berikut:
a) menciptakan lingkungan tanpa stres (rileks), yaitu lingkungan yang aman untuk kesalahan, namun dengan harapan akan mendapatan kesuksesan yang lebih tinggi.
b) menjamin bahwa bahan ajar itu relevan. Seseorang akan belajar ketika orang itu melihat manfaat dan pentingnya bahan ajar.
c) menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif. Pada umumnya, hal tersebut dapat terjadi ketika belajar dilakukan bersama orang lain, ketika ada humor dan dorongan semangat, waktu rehat dan jeda yang teratur, serta dukungan antusias.
d) melibatkan secara sadar semua indera dan otak kiri maupun kanan.
e) menantang peserta didik untuk dapat berpikir jauh ke depan dan mengekspresikan apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan untuk memahami bahan ajar.
C. LANDASAN HUKUM PAKEM
1. UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003
a) Pasal 4
Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
b) Pasal 40
Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis.
2. PP No. 19 Tahun 2005, Pasal 19
            Proses pembelajarn pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
D. PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN PAKEM
1. Mengalami: peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional. Mengalami pengalaman langsung pembelajaran akan lebih memberi makna kepada siswa daripada hanya mendengarkan. Misalnya pada mata pelajaran olah raga supaya siswa dapat mengetahui tentang bagaimana melakukan serven dalam permainan bola voli, maka guru memberikan kesempatan kepada siswanya untuk melakukan serven bola.
2. Komunikasi: kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta didik. Proses komunikasi yang baik adalah proses komunikasi dimana antara unsur komunikator dan komunikan terdapat satu arah yang sama.
3. Interaksi: kegiatan pembelajarannya memungkinkan terjadinya interaksi multi arah. Interaksi multi arah yang diharapkan terjadi adalah interaksi transaksional, dimana proses komunikasi antara guru dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa, bahkan siswa dengan lingkungan sekitar memiliki kesiapan yang cukup baik.
4. Refleksi: kegiatan pembelajarannya memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukan. Proses refleksi sangat perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana ketercapaian proses pembelajaran. Kegiatan refleksi ini dilakukan bersama antara guru dengan siswa.
E. KRITERIA STRATEGI PEMBELAJARAN PAKEM
1. guru berusaha untuk membangkitkan semangat dengan menggunakan berbagai alat bantu, misalnya menggunakan lingkungan sebagai salah satu sumber belajar yang dapat diolah sedemikian rupa sehingga dapat memberikan suasana pembelajaran lebih menarik, menyenangkan, dan sesuai dengan kompetensi siswa yang ingin dicapai.
2. guru mengatur kelas sedemikian rupa agar lebih kondusif untuk situasi pembelajaran, dan membuat siswa merasa betah di kelasnya. Misalnya dengan memajang buku-buku dan bahan belajar menarik, juga menyediakan “pokok baca”. Guru juga harus bisa memajang hasil-hasil karya anak didiknya di seluruh penjuru kelas. Sehingga siswa dapat merasa bangga, karyanya bisa diapresiasi oleh teman-temannya.
3. guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif. Contohnya belajar berkelompok atau memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya.
4. guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menata lingkungan hidupnya.
            Hal yang perlu diingat berdasarkan kriteria-kriteria strategi pembelajaran PAKEM, pembelajaran harusnya:
a) berusaha membuat peserta didik selalu terlibat secara aktif.
b) mendorong munculnya kreativitas peserta didik dan guru.
c) berusaha agar pembelajaran selalu efektif.
d) Proses pembelajarannya berlangsung secara menyenangkan terutama bagi peserta didik.
F. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PELAKSANAAN STRATEGI PAKEM
            Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru agar strategi PAKEM dapat dilaksanakan dengan baik. Hal tersebut antara lan:
1. Memahami sifat yang dimiliki anak
            Ada dua sifat mendasar yang pasti dimiliki oleh setiap anak di manapun, yaitu kesukaan berimajinasi dan rasa ingin tahu yang besar. Guru sebagai pembimbing siswa, harus tahu betul karakteristik kedua sifat dasar itu sebagai modal untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa. Guru bisa melakukan berbagai cara yang dapat membuat siswa senang/merasa dihargai, seperti memuji hasil karyanya, mengajukan pertanyaann yang menantang, atau mendorong siswa untuk melakukan percobaan.
2. Mengenal anak secara perorangan
            Setiap siswa tentunya memiliki karakteristik yang berbeda. Tak terkecuali dalam hal pembelajaran. Ada siswa yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyerap materi pelajaran, ada juga siswa yang agak lambat dalam menyerap materi pelajaran. Dengan mengenal kekurangan dan kelebihan diri setiap siswanya, guru bisa merumuskan perlakuan khusus yang harus diberikan kepada setiap siswa. Siswa yang mempunya kemampuan lebih, misalnya bisa dimanfaatkan untuk membantu temannya yang memiliki kemampuan kurang dalam belajar.
2. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
            Sebagai makhluk sosial, anak sejak kesil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan bak bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
            Untuk menghadapi hidup, setiap orang harus memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan memikirkan alternatif-alternatif pemecahan masalah. Hal ini harus dipucuk sedini mungkin sebagai bekal bagi setiap peserta didik.
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
            Ruangan kelas sebagai lingkungan utama tempat berlangsungnya pembelajaran merupakan salah satu aspek yang harus mendapat perhatian lebih dalam strategu PAKEM. Kelas harus ditata sedemikian rupa agar nyaman dan membuat betah peserta didik. Salah satu yang bisa dilakukan adalah memajang karya-karya siswa, poster, diagram, peta, alat peraga, dll.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
            Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering kali membuat anak merasa senang, sehingga materi pelajaran dan lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial maupun budaya dapat disampaikan secara efektif. Contohnya, mengamati pertumbuhan tanaman di perkebunan, atau melihat cara-cara pengolahan tanaman di pertanian. Tapi demi efektifitas waktu dan biaya, tak selamanya siswa diajak ke lingkungan tertentu untuk belajar. Guru bisa mengambil salah satu bagian dari lingkungan belajar ke dalam kelas, contohnya membawa contoh tanaman ke dalam ruang kelas, atau membawa foto/gambar dari lingkungan belajar di dalam kelas.
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
            Pemberian umpan balik dari guru kepada guru merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dengan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.
8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
            Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Contoh aktif fisik ialah saat siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. 












BAB III
PENUTUP

PAKEM ialah kependekan dari Pembelajaran, Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. PAKEM merupakan model pembelajaran dan menjad pedoman dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

















DAFTAR PUSTAKA

1.         Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Guru & Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta.
2.         Asmani, Jamal Ma’mur. 2010. 7 Tips Aplikasi PAKEM. Jogjakarta: PT Diva Press.
3.         Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar