Minggu, 19 Januari 2014

TEORI BELAJAR HUMANISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN


BAB I
PEMBAHASAN
2.1 Pembelajaran Menurut Aliran Behavioristik
Menurut aliran ini, pembelajaran adalah upaya membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan, agar terjadi hubungan dengan lingkungan dengan tingkah laku pembelajar. Oleh karena itu disebut juga pembelajaran perilaku.
Adapun prinsip – prinsip teori pembelajaran perilaku antara lain :
  1. Perlu diberikan penguatan untuk meningkatkan motivasi belajar.
  2. Pemberian penguatan bisa berupa penguat sosial (pujian), aktivitas (mainan) dan simbolik (uang, nilai).
  3. Hukuman dapat digunakan sebagai alat pembelajaran tapi perlu hati-hati.
  4. Perilaku belajar yang segera diikuti konsekuensi akan lebih berpengaruh.
  5. Pendidik dikatakan telah melakukan pembentukan bila memberikan penguatan dalam pengajarannya.
Secara umum penerapan fisik belajar perilaku tampak dalam langkah-langkah pembelajaran berikut :
  1. Menentukan tujuan intruksional
  2. Mengalisis lingkungan kelas termasuk identifikasi entry behavior peserta didik
  3. Menentukan materi pelajaran
  4. Memecahkan materi pelajaran menjadi bagian kecil-kecil
  5. Menyajikan materi pembelajaran
  6. Memberikan stimulus yang mungkin berupa pertanyaan, latihan dan tugas-tugas
  7. Mengamati dan mengkaji respon peserta didik
  8. Memberikan penguatan mungkin positif atau negatif
  9. Memberikan stimulus baru
2.2   Pembelajaran Menurut Aliran Kognitif
Pengembangan konsep pembelajaran kognitif sudah tentu sangat dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitif. Terdapat tiga tokoh penting di dalamnya yaitu: Piaget, Bruner dan Ausuble.
2.2.1 Prinsip Pembelajaran Menurut Jean Piaget
Tiga prinsip utama pembelajaran yang dikemukakan Piaget, antara lain:
  1. Belajar aktif
Proses pembelajaran adalah proses aktif, karena pengetahuan terbentuk dari dalam subyek belajar. Untuk membantu perkembangan kognitif anak, kepadanya perlu diciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan anak belajar sendiri, misalnya: melakukan percobaan sendiri; memanipulasi symbol-simbol; mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri; membandingkan penemuan sendiri dengan penemuan temannya.
  1. Belajar lewat interaksi sosial
Dalam belajar perlu diciptakan suasana yang memungkinkan terjadinya interaksi di antara subyek belajar. Menurut Piaget belajar bersama baik dengan teman sebaya maupun orang yang lebih dewasa akan membantu perkembangan kognitif mereka. Karena tanpa kebersamaan kognitif akan berkembang dengan sifat egosentrisnya. Dan dengan kebersamaan khasanah kognitif anak akan semakin beragam. Hal ini memperkuat pendapat dari JL. Mursell.
  1. Belajar lewat pengalaman sendiri
Dengan menggunakan pengalaman nyata maka perkembangan kognitif seseorang akan lebih baik daripada hanya menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Berbahasa sangat penting untuk berkomunikasi namun jika tidak diikuti oleh penerapan dan pengalaman maka perkembangan kognitif seseorang akan cenderung mengarah ke verbalisme.
2.2.2 Prinsip Pembelajaran Menurut Brunner
Brunner menyatakan bahwa dalam belajar ada empat hal pokok yang perlu diperhatikan yaitu peranan pengalaman struktur pengetahuan, kesiapan mempelajari sesuatu, intuisi, dan cara membangkitkan motivasi belajar. Maka dalam pengajaran di sekolah Brunner mengaukan bahwa dalam pembelajaran hendaknya mencakup:
  1. Pengalaman-pengalaman optimal untuk mau dan dapat belajar
Pembelajaran dari segi siswa adalah pembelajaran yang membantu siswa dalam hal mencari alternative pemecahan masalah. Dalam mencari pemecahan masalah melalui penyelidikan dan penemuan serta cara pemecahannya dibutuhkan adanya aktivitas, pemeliharaan dan pengarahan. Artinya dalam pembelajaran dibutuhkan pengalaman-pengalaman untuk melakukan sesuatu dengan tujuan mempertahankan pengalaman-pengalaman yang positif. Karena itulah diperlukan arahan dari guru agar siswa tidak banyak melakukan kesalahan. Maka guru harus memberikan kesempatan sebaik-baiknya agar siswa memperoleh pengalaman optimal dalam proses belajar dan meningkatkan kemauan belajar.
  1. Perstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal
Pembelajaran hendaknya dapat memberikan struktur yang jelas dari suatu pengetahuan yang dipelajari anak-anak. Struktur pengetahuan memiliki tiga ciri dan setiap ciri itu, mempengaruhi kemampuan untuk menguasainya.ketiga cara itu ialah : penyajian, ekonomi dan kuasa (Dahar ; 1996 )
  1. Penyajian (mode of representation )
Penyajian dilakukan dengan cara enaktif,ikonik dan simbolik. Cara pnyajian enaktif adalah melalui tindakan, jadi bersifta manipulatife.Dengan cara enaktif seseorang mengetahuai suatu aspek dari kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata dan didasarkan pada belajar tentang respon-respon dan bemtuk-bentuk kebiasaan.
  1. Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal.
Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu.
  1. Cara penyajian simbolik
Dengan mendekati masa adolesensi, bagi seseorang, bahasa menjadi makin penting sebagai suatu media berfikir. Penggunaaan penyajian ikonik ke penyajian simbolik yang didasarkan pada system berfikir abstrak, arbriter dan lebih fleksibel. Penyajian simbolik dibuktikan oleh kemampuan sesorang lebih memperhatikan prosisi atau pernyataan dari pada objek-objek, memberikan struktur hierarkhis pada konsep-konsep dan kemungkinan alternative dalam suatu cara kombinatorial.
  1. Ekonomis
Dalam penyajian suatu pengetauan akan dihubungkan dengan suatu informasi yang dapat disimpan dalam pikiran dan diproses untuk mencapai pemahaman. Semakin banyak jumlah informasi yang harus dipelajari peserta didik untuk memahami sesuatu, makin banyak langkah-lagkah yang harus ditempuh.
  1. Kekuatan
Kuasa dari suatu penyajian dapat juga diartikan sebagai kemampuan penyajian itu untuk menghubungkan hal-hal yang kelihatannya sangat terpisah-pisah.
  1. Perincian urutan penyajian materi pelajaran
Pendekatan pembelajaran dilakukan dengan siswa dibimbing melalui urutan masalah, sekumpulan materi pelajaran yang logis dan sistematis untuk meningkatkan kemampuan dalam menerima, mengubah dan mentransfer apa yang telah dipelajari. Urutan materi sangat berpengaruh pada tingkat kemampuan siswa dalam menguasai materi tersebut. Yang mempengaruhi dalam urutan optimal suatu materi adalah factor belajar sebelumnya, tingkat perkembangan anak, sifat materi pelajaran dan perbedaan individu.
  1. Cara pemberian penguatan
Brunner mendukung adanya hadiah dan hukuman dalam pembelajaran yang digunakan sebagai reinforcement untuk siswa. Sebab Brunner mengakui bahwa suatu ketika hadiah ekstrinsik bisa berubah menjadi dorongan yang bersifat intrinsic. Demikian juga pujian dari guru adalah dorongan bersifat ekstrinsik dan keberhasilan memecahkan masalah menjadi dorongan yang bersifat intrinsik.
2.2.3 Prinsip Pembelajaran menurut David Ausuble
David Ausuble mngemukakan tentang belajar bermakna (meaningful learning). Belajar bermakna adalah proses mengaitkan informasi baru dengan konsep-konsep yang relevan dan terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Prasyarat belajar bermakna adalah: materi yang akan dipelajari bermakna secara potensial dan anaj yang belajar bertujuan melaksanakan belajar bermakna. Empat prinsip pembelajaran, antara lain:
  1. Pengatur Awal/ kerangka cantolan(Advance Organizer)
Pengatur awal atau bahan pengait dapat digunakan guru dalam membantu mengaitkan konsep lama dengan konsep baru yang lebih tinggi maknanya. Penggunaan pengatur awal yang tepat dapat meningkatkan pemahaman berbagai macam materi pelajaran, terutama materi pelajaran yang mempunyai struktur yang teratur. Pada saat mengawali pembelajaran dengan presentasi suatu pokok bahasan sebaiknya “pengatur awal” itu digunakan, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
  1. Diferensiasi Progresif
Di dalam proses belajar bermakna perlu adanya pengembangan dan elaborasi konsep-konsep. Caranya unsure yang paling umum dan inklusif diperkenalkan lebih dahulu kemudian baru yang lebih mendetail, berarti proses pembelajaran dari umum ke khusus.
  1. Belajar Superordinat
Belajar superordinat adalah proses struktur kognitif yang mengalami pertumbuhan ke arah deferensiasi, terjadi sejak perolehan informasi dan diasosiasikan dengan konsep dalam struktur kognitif tersebut. Proses belajar tersebut akan terus berlanjut hingga suatu saat ditemukan hal-hal baru. Belajar superordinat akan terjadi bila konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya merupakan unsur-unsur dari suatu konsep yang lebih luas dan inklusif.
  1. Penyesuaian Integratif
Pada suatu saat siswa kemungkinan akan menghadapi kenyataan bahwa dua atau lebih nama konsep digunakan untuk menyatakan konsep yang sama atau bila nama yang sama diterapkan pada lebih satu konsep. Untuk mengatasi pertentangan kognitif itu, Ausuble juga mengajukan konsep pembelajaran penyesuaian integrative. Caranya, materi pelajaran disusun sedemikian rupa, sehingga guru dapat menggunakan hierarki-hierarki konseptual ke atas dank e bawah selama informasi disajikan.

2.3  Pembelajaran Menurut Aliran Humanistik
Pendidikan humanistik sangat mementingkan adanya rasa kemerdekaan dan tanggung jawab. Aliran ini mempunyai tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia agar manusia mampu mengaktualisasi diri sebaik-baiknya. Aliran humanistik tidak mempunyai teori belajar khusus, tetapi hanya bersifat ekletik, dalam arti mengambil teori yang sesuai (kognitif) asal tujuan pembelajaran tercapai.
  1. Fungsi pendidik
Peran pendidik dalam pendekatan humanistik adalah sebagai fasilitator belajar.Pendidik adalah individu yang memiliki tugas membimbing belajar sebagai model pemecahan masalah, sebagai katalisator dalam memprakarsai proses belajar, sebagai pembantu dalam proses belajaran, sebagai teman peserta didik dalam mengkaji dan memecahkan masalah.Ada 5 peran yang harus dilakukan pendidik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran humanistik yaitu :
1)      Menciptakan iklim belajar.
Ada 4 faktor utama yang perlu diperhatikan dalam menciptkan lingkungan belajar yang kondusif bagi kegiatanbelajar peserta didik, yaitu :
  • Persiapan sarana dan kegiatan belajar
Pemberitahuan kegiatan belajar yang disampaikan kepada peserta didik akan memberikan dampak positif terhadap iklim belajar apabila tampilan pemberitahuan tersebut mampu memberikan semangat dan cita rasa serta harapan kepada peserta didik.Dalam kegiatan awal pembelajaran peserta didik perlu dilibatkan didalam berbagai kegiatan, missalnya ikut serta dalam menyiapkan sarana belajar.
  • Pengaturan fisik
Sebelum kegiatan belajar dimulai lingkunagn fisik hendaknya ditata sehingga tampak menyenangkan.
  • Acara pembukaan kegiatan belajar
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif. Misalnya pada kegiatan diskusi. Dalam pembukaan pembelajaran, dapat dijadikan forumuntik saling berkenalan dan dapat pula diberikan orientasi mengenai tujuan dan rencana kegiatan. Penampilan dan sikap pendidik dapat ikut berperan dalam menciptkan iklim belajar.
  • Membangun suasana kebersamaan
Membangun kebersamaan peserta didik di dalam kelompok, adalah gampang –gampang susah lebih-lebih pada awal pembelajaran. Apabila pendidik mampu memfasilitasipeserta didik untuk membangun kebersamaan dengan prakarsa diri, berarti dia telah memperoleh keberhasilan wal dalam melaksanakan pembelajaran.
2)      Memenui kebutuhan belajar peserta didik.
Kebutuhan berfungsi sebagai kunci pendorong perilaku sehingga menciptakan keaadaan yang tidak seimbang pada diri individu. kebutuhan pendidikan adalah segala sesuatu yang harus dipelajari oleh peserta didik untuk kebaikan sendiri ataupun masyarakat.










Kebutuhan Pendidikan



                        Kesenjangan



petensi yang dimiliki
Kebutuhan pendidikan merupakan kesenjangan antara apa yang diinginkan oleh peserta didik atau masyarakat dengan apa yang dimiliki. Semakin kongkrit individu mengidentifikasi aspirasi dan menilai tingkat kompetensinya , semakin tepat pula menetapkan kebutuhan belajarnya dan termotivasi untuk belajar.
3)      Membantu mengungkapkan emosi peserta didik.
Pendidik yang melaksanakan pendekata  humanistic akan selalu terlibat dalam kegiatan kehidupan emosional peserta didik.pendidi yang mampu memahami kondisi emosional peserta didik akan berhasil melaksanakan pembelajaran. Demikian pula peserta didik ynang memahami kondisi emosional teman-temannya. Dia akan mudah beradaptasi dan pada gilirannnya akan berhasil dalam belajar. Oleh karenan itu apabila individu mampu memahami dirisendiri dan lingkungannya maka akan mudah dalam mengebangkan kemampuan emosinya.
4)      Membantu belajar peserta didik.
Untuk menjadi pendidik humanistic, seseorang harus mampu dan mau mendengarkan mengelola gagasan, mengemas sumbang saran yang mengarah pada pencapaian tujuan yang telah menjadi kebutuhan belajar peserta didik. Oleh karena belajar sambil bekerja merupakanpengalaman terbaik unutk menambah keterampilan memfasilitasi aktifitas belajar peserata peserta didik.
Fungsi pendidik dalah menjadi fasilitator yang membantu peserta didik belajar, bebrapa tindakan yang dapat dilakukan yaitu seperti menyediakan sumber daya dan memilih teknik untuk membantu  belajar peserta didik.
  1. Bentuk pembelajaran
Bentuk pembelajaran melalui pendekatan humanistik adalah bahwa peserta didik dituntut untuk selalu memotivasi diri. Untuk mencapai ke arah itu kegiatan belajar hendaknya mendorong peserta didik untuk belajar cara-cara belajar dan menilai belajarnya sendiri. Program pembelajaran yang diterapkan dalam pendekatan humanistik umumnya menggunakan kegiatan terbuka di mana peserta didik harus menemukan informasi, membuat keputusan, memecahkan masalah dan membuat produk sendiri. Dalam pendidikan humanistik, peserta didik tidak memiliki tempat duduk yang tetap seperti halnya pendidikan konvensional. Peserta didik dapat belajar mandiri atau belajar dengan kelompok.

2.4  Pembelajaran Menurut Aliran Kontemporer
Pembelajaran teori kontemporer yang dimaksud disini adalah pembelajaran berdasarkan teori belajar kontruktivisme. Pada  kontruktivisme seperti  Von Glassersfeld, mengembangkan fungsi kognitif dalam mengkontruksi pengetahuan. Disini  pembelajaran berfungsi membekali kemampuan peserta didik mengakses berbagi informasi yang dibutuhkan dalam belajar dalam kaitan perolehan informasi peserta didik mempunyai kemampuan mengakses beragam informasi yang digunakan untuk belajar, maka pendidik berfungsi membekali kemampuan peserta didik dalam menyeleksi informasi yang dibutuhka. Informasi tidak memuat sai-satunya kebenaran tetapi informasi hanya memiliki makna dalam konteks waktu, tempat, permasalahan dan bidang tertentu (Pannen, Paulina, dkk 20011).
Pembelajaran kontruktivisme mengkritisi konsep pembelajaran yang selama ini, belajar mengajar dalam arti cenderung berpusat pada pendidik dipihak lain cenderung berpusat pada subjek belajar. Karena kontruktivisme berpegang pada pandangan keaktifan peserta didik dalam mengkontruksi pengetahuan berdasarkan intraksinya dalam pengalaman belajar yang diperoleh.Bentuk pembelajaran student center learning strategies dilaksanakan melalui belajar aktif, belajar mandiri, belajar kooperatif dan kolaborasi generatif learning dan problem based learning.
Model pembelajaran yang dikembangkan dalam teori kontruktivisme adalah berdasrkan teori pembelajaran Quantum. Pengertian quantum teaching mencangkup dan dapat dipahami melalui tiga hal. Yaitu : quantum, pemercepatan belajar dan fasilitas.
Quantum berarti interkasi yang mengubah energi menjadi cahaya. Teaching berarti pengajaran kemudian diarttikan sebagia pembelajaran untuk menghilangkan kesan dominasi tugas pendidik terhadap peserta didik dan memberikan pengakuan lebih terhadap kemampuan peserta didik untuk belajar dengan bantuan dan bimbingan pendidik .
Pemercepatan belajar berarti menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik,mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan ajaran yang sesuai secara efektif penyajian dan keterlibatan aktif.
Fasilitas artinya memudahkan segala hal fasilitas dalam konteks ini merujuk pada impelementasi strategi yang menyingkirkan hambatan belajar.mengembalikan proses belajar yang mudah dan alami.
Berdasarkan keterangan diatas disimpulkan bahwa pembelajaran quantum adalah adanya upaya pendidik untuk mengorkestrasikan berbagi intraksi dalam proses pembelajaran yang menjadi cahaya yang melejit prestasi pesrta didik dengan menyingkirkan hambatan belajar melalui penggunanaan, cara dan alat yang tepat sehingga peserta didik dapat belajar secara mudah dan alami.
Pembelajaran quantum dirancang berdasarkan 3 hal yaitu: asas utama, prinsip-prinsip dan model. Asas utama berkaitan dengan konsep yang digunakan untuk pembelajarn quantum yaitu: Bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka. hal ini mengandung konsekuensi bahwa langkah pertama yang hareus dilakukan pendidik dalam pelaksanaan pembelajaran adalah membangun jembatan autentik memasuki kehidupan peserta didik untuk mendapatkan hak mengajar dari mereka.
Belajar adalah kegiatan full kontak, suatu kegiatan yang melibatkan seluruh kepribadian manusia (pikiran, ;perasaan dan bahasa tubuh) disamping pengetahuan, sikap dan keyakinan sebelumnya serta presepsi masa mendatang.
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam pembelajaran quantum terdiri dari 5 macam yaitu :
  1. Segalanya berbicara
Prinsip segalanya berbicara mengandung pengertian bahwa segala sesuatu diruang kelas berbicara mengirim pesan tentang belajardari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh pendidik dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran
  1. Segalanya bertujuan
Prinsip ini berarti bahwa semua upaya yang dilakuakanb pendidik dalam mengubah kelas mempunyai tujuan yaitu agar peserta didik dapat belajar secara optimal, mencapai prestasi tertinggi.
  1. Pengalaman sebelum pemberian nama
Proses belajar yang paling baik terjadi ketika peserta didik telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama unmtuk hal0hal yang mereka pelajari.
  1. Akui setiap usaha
Pendidik hendaknya mengakui setiap usaha yang telah dilakukan oleh peserta didik agar peserta didik selalu mengoptiomalkan usahanya misalnya dengan pemberian hadiah oleh pendidik pada peserta didik
  1. Jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan
Setiap usaha yang telah dilakukan oleh siswa yang terbaik perlu mendapatkan suatu pengharagaan sebagai hasil kerja keras mereka.





















BAB II
PENUTUP
3.1 Simpulan
3.1.1 Pembelajaran menurut aliran behavioristik adalah upaya membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan. Prinsip pembelajarannya ada penguatan untuk meningkatkan motivasi belajar berupa pujian, aktivitas (mainan) dan simbolik (uang, nilai), hukuman, dan perilaku belajar yang segera diikuti konsekuensi.
3.1.2  Pembelajaran menurut aliran kognitif ,  Jean Piaget memiliki 3 prinsip pembelajaran yaitu belajar aktif, belajar lewat interkasi sosial dan pengalaman sendiri. Menurut Brunner antara lain pengalaman optimal untuk mau dan dapat belajar, perstrukturan pengetahuan, urutan penyajian materi dan pemberian penguatan. Sedangkan, David Ausubel yaitu kerangka cantolan, belajar progesif, belajar superodinat dan penyesuaian integratif.
3.1.3 Pembelajaran menurut aliran humanistik bertujuan untuk memanusiakan manusia agar mampu mengaktualisasi diri sebaik-baiknya. Prinsip pembelajarannya meliputi menciptakan iklim belajar, memenuhi kebutuhan peserta didik, membantu mengemukakan emosi dan membantu belajar peserta didik.
3.1.4 Pembelajaran menurut aliran kontemporer berdasarkan teori kontruktivisme yang berperan dalam model pembelajaran kuantum. Model ini adalah upaya untuk mengorkestrasikan berbagai interaksi dalam proses pembelajaran menjadi cahaya prestasi, dengan menyingkirkan hambatan belajar dan menfasilitasinya sehingga peserta didik dapat belajar dengan mudah.
3.2 Saran
3.2.1 Sebaiknya pemahaman konsep pembelajaran ini perlu di bahas masalah yang berkembang sekarang ini dan bagaimana upaya dalam berbagai model pembelajaran yang ada  sehingga pembaca lebih mengerti maksud dari penyajian makalah ini.







DAFTAR PUSTAKA

Effendi E.U., dan Praja. 1989. Pengantar Psikologi. Bandung : Angkasa.
Meliala, Adrianus. NY. Teori-teori Belajar. http://www.adrianusmeliala.com/files/kuliah. Diakses tanggal 12 Desember 2011, Pukul 13.10 WIB.
Rifa’i, Achmad dan Catharina T.A. 2010. Psikologi Pendidikan. Semarang : Puspeng MKU/MKDK-LP3 Universitas Negeri Semarang.
Subyarata. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Sudrajat, Ahmat.  2009. Psikologi Belajar. http://Ahmadsudrajat.wordpress.com. Diakses tanggal 12 Desember 2011, Pukul 13.00 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar